BREAKING
10 Tahun RI Nihil Bangun Pelabuhan Ikan Modern, Ternyata Ini Alasannya
KABARVIRAL 62
KURASI & RINGKASAN BERITA
Gaya Hidup & Karir

12 Buah dan Sayur Paling Tinggi Residu Pestisida, Banyak Dimakan Warga

12 Buah dan Sayur Paling Tinggi Residu Pestisida, Banyak Dimakan Warga
Foto & Sumber: CNBC Indonesia

Stroberi, bayam, dan sayuran berdaun hijau menempati posisi teratas dalam daftar “Dirty Dozen” yang dirilis oleh Environmental Working Group (EWG).

Daftar tersebut didasarkan pada analisis lebih dari 46.500 sampel buah dan sayur yang diambil oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan Badan Pengawas Obat serta Makanan AS (FDA). Meski data berasal dari Amerika, temuan ini relevan bagi konsumen Indonesia karena banyak produk tersebut masuk pasar lokal melalui impor atau dibudidayakan secara serupa.

Tingkat Kontaminasi dan Zat yang Ditemukan

  • Stroberi: Sekitar 30 % sampel mengandung sepuluh atau lebih jenis pestisida.
  • Bayam: 76 % sampel mengandung residu, termasuk permetrin, insektisida neurotoksik yang dapat mengganggu sistem saraf hewan.
  • Sayuran berdaun hijau (selain bayam): 86 % sampel terdeteksi dua atau lebih pestisida, di antaranya imidakloprid, bifentrin, dan sipermetrin—semua bersifat neurotoksik.
  • Persik: Lebih dari 99 % sampel mengandung pestisida; 65 % di antaranya mengandung empat jenis atau lebih.
BACA JUGA Daftar Negara Jadi Konsumen Daging Babi Terbesar di ASEAN

Data lain dalam daftar mencakup selada, anggur, seledri, tomat ceri, apel, kiwi, dan semangka. Semua item tersebut merupakan komoditas yang banyak dikonsumsi di Indonesia, baik dalam bentuk segar maupun olahan.

Bagaimana Residu Pestisida Mempengaruhi Kesehatan?

Pestisida dirancang untuk membunuh hama, tetapi bila tersisa pada hasil panen dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Zat neurotoksik seperti permetrin, imidakloprid, dan sipermetrin diketahui dapat mengganggu transmisi sinyal saraf, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Paparan jangka panjang, meski pada tingkat rendah, dikaitkan dengan gangguan perkembangan kognitif dan masalah reproduksi. Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa batas maksimum residu (BMR) yang diizinkan telah ditetapkan secara ilmiah; produk yang melampaui batas tersebut tidak boleh dipasarkan.

Realitas di Pasar Indonesia

Indonesia tidak memiliki data nasional yang selengkap EWG, tetapi survei 2023 yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Konsumen (LPK) menemukan bahwa 57 % sampel sayuran hijau yang dijual di pasar tradisional mengandung residu pestisida, dengan tingkat deteksi tertinggi pada bayam dan selada. Impor stroberi, persik, dan anggur dari negara produsen utama (Amerika Serikat, Chili, Italia) juga masuk ke pasar premium, sehingga konsumen kelas menengah ke atas tidak terlepas dari risiko.

Langkah Praktis untuk Mengurangi Paparan

  1. Cuci dengan air mengalir selama minimal 30 detik, kemudian rendam dalam larutan air bersih dengan sedikit cuka (1 %) selama 5‑10 menit.
  2. Kupas kulit pada buah yang dapat dikupas (apel, persik, semangka). Kulit mengandung konsentrasi pestisida paling tinggi.
  3. Pilih produk organik yang memiliki sertifikasi resmi (misalnya “Organic Indonesia”). Meskipun tidak menjamin bebas pestisida, tingkat kontaminasi biasanya lebih rendah.
  4. Diversifikasi konsumsi dengan menambah sumber protein nabati (kacang, tempe) dan karbohidrat kompleks, sehingga ketergantungan pada sayur berdaun hijau dapat diimbangi.
BACA JUGA 5 Tempat Wisata Ini Masuk Bucket List Teratas Traveler Dunia

Perspektif Ahli dan Kebijakan

Dr. Rina Suryani, pakar toksikologi di Universitas Indonesia, menekankan bahwa “mengurangi paparan tidak berarti menghindari buah dan sayur. Nutrisi penting yang terkandung dalam sayuran hijau jauh lebih besar manfaatnya dibandingkan risiko residu pada level yang masih berada di bawah BMR.”

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Pertanian tengah mengkaji mekanisme pelacakan rantai pasok pestisida, termasuk penggunaan teknologi blockchain untuk memverifikasi asal produk. Inisiatif ini diharapkan memperkuat transparansi bagi konsumen yang menginginkan jaminan keamanan pangan.

Daftar “Dirty Dozen” mengingatkan konsumen bahwa tidak ada hasil pertanian yang sepenuhnya bebas pestisida. Namun, dengan prosedur pencucian yang tepat, pemilihan produk bersertifikat, dan kebijakan pengawasan yang lebih ketat, risiko dapat diminimalkan tanpa mengorbankan asupan gizi. Bagi pembaca KabarViral 62, langkah paling nyata adalah mempraktikkan pencucian menyeluruh sebelum mengonsumsi buah dan sayur, serta menuntut transparansi lebih besar dari pelaku industri pangan.

Akses Liputan Penuh • Bebas Biaya • KabarViral 62
Dikutip & dirangkum dari liputan lapangan CNBC Indonesia. Baca Berita Asli di CNBC Indonesia →
Bagaimana tanggapan Anda atas liputan ini?
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi liputan ini.
GADGET & ELEKTRONIK Shopee Pilihan Redaksi

Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari

Koleksi charger GaN, TWS noise-cancelling, kabel braided, dan stand HP terlaris diskon hingga 60%.

Cek Promo Gadget →
HOSTING & DOMAIN Exabytes Indonesia
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat

Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.

Cek Promo →
SEBELUMNYA 10 Besar Negara dengan Kuliner Terbaik Dunia, RI Kalahkan Thailand SELANJUTNYA Fraktur Waktu Kosmik: Misteri Semburan Radio Terjauh dan Ancaman bagi Teknologi Bumi
GADGET & ELEKTRONIK Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari
Cek Promo Gadget →
Tautan berhasil disalin ke clipboard!