Camino de Flores Siap Jadi Magnet Baru Pariwisata Indonesia
JAKARTA / INDONESIA — Kementerian Pariwisata mengumumkan pada konferensi pers Selasa (13 Oktober 2026) bahwa proyek jalur lintas Flores—Camino de Flores—akan beralih dari fase percontohan ke status destinasi wisata permanen.
Inisiatornya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, menegaskan harapannya agar rute ini tidak hanya menjadi atraksi sesaat, melainkan “jalur ziarah Indonesia” yang menarik wisatawan mancanegara sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Potensi Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja
Camino de Flores menghubungkan enam kabupaten di Pulau Flores, melintasi lanskap vulkanik, sawah terasering, serta situs budaya suku Manggarai dan Ende. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, provinsi NTT mencatat 1,8 juta kedatangan wisatawan domestik dan 250 ribu wisatawan mancanegara, dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB provinsi mencapai 12 %. Pemerintah memperkirakan jalur permanen dapat menambah 15‑20 % kunjungan internasional dalam tiga tahun pertama, yang setara dengan tambahan 30‑40 ribu wisatawan per tahun.
Jika rata‑rata pengeluaran per wisatawan internasional di NTT mencapai US$ 1.200 (sekitar Rp 18 juta), potensi pendapatan tambahan dapat mencapai Rp 540‑720 miliar per tahun. Sebagian besar pendapatan diharapkan mengalir ke sektor akomodasi, kuliner, serta usaha mikro‑kecil (UMK) yang menyediakan panduan, kerajinan, dan transportasi lokal.
Tantangan Infrastruktur dan Kesiapan Lapangan
- Aksesibilitas: Jalan utama yang menghubungkan titik awal jalur (Bajawa) ke bandara Komodo masih berstatus jalan kabupaten dengan sebagian besar beraspal tipis. Pemerintah provinsi telah mengalokasikan Rp 450 miliar untuk perbaikan, namun progresnya masih 45 % pada akhir September.
- Fasilitas dasar: Ketersediaan air bersih, listrik, dan jaringan seluler di desa‑desa perbatasan masih terbatas. Tanpa peningkatan layanan ini, risiko penurunan kualitas pengalaman wisatawan meningkat.
- Pengelolaan sampah: Selama musim liburan, desa‑desa seperti Bena dan Larantuka melaporkan akumulasi sampah plastik hingga 2,5 ton per minggu, melebihi kapasitas fasilitas pengolahan lokal.
Suara Masyarakat dan Lembaga Independen
“Jalur ini memang membuka peluang kerja, terutama bagi pemuda yang menjadi pemandu atau pengelola homestay,” kata I Wayan Sukma, ketua Koperasi UMKM Suku Manggarai. “Tapi kami khawatir kalau tidak ada regulasi yang jelas, wisatawan akan menginjak wilayah suci tanpa menghormati adat.”
Lembaga Lingkungan Hidup Indonesia (LHI) menyoroti risiko erosi tanah pada bagian jalur yang melintasi lereng aktif Gunung Inerie. “Jika volume wisatawan tidak diatur, beban fisik pada trek dapat mempercepat degradasi ekosistem, mengancam flora endemik seperti Rafflesia arnoldii,” pernyataannya.
Langkah Mitigasi yang Diharapkan
- Sertifikasi Jalur Berkelanjutan – Mengadopsi standar ISO 21401 (Sustainable Tourism Management) untuk memastikan pengelolaan limbah, energi, dan interaksi budaya yang bertanggung jawab.
- Pelatihan Komunitas – Program pelatihan pemandu wisata berbasis kearifan lokal, termasuk pengetahuan bahasa asing dasar dan prinsip “Leave No Trace”.
- Pengawasan Real‑time – Pemasangan sensor cuaca dan kamera pengawas di titik rawan longsor, dikelola oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT.
Apa yang Perlu Diketahui Wisatawan
- Perlengkapan: Trek sepanjang 120 km memerlukan sepatu trekking, pakaian anti‑hujan, dan persediaan air minimal 2 liter per hari.
- Izin: Pengunjung harus mengajukan izin masuk melalui portal resmi Kementerian Pariwisata minimal 48 jam sebelum keberangkatan; biaya administrasi Rp 150.000 per orang.
- Etika: Menghormati situs budaya, tidak membuang sampah sembarangan, serta mengikuti arahan pemandu lokal.
Camino de Flores memiliki potensi untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi wilayah Flores, terutama melalui peningkatan kunjungan internasional dan penciptaan lapangan kerja berbasis komunitas. Namun, realisasi manfaat tersebut bergantung pada kesiapan infrastruktur, penegakan regulasi lingkungan, serta partisipasi aktif masyarakat setempat. Jika pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi non‑pemerintah dapat menyelaraskan upaya, jalur ini berpeluang menjadi contoh wisata berkelanjutan yang menghubungkan keindahan alam Indonesia dengan kesejahteraan rakyatnya.
Pembaca yang berencana menelusuri Camino de Flores sebaiknya menyiapkan perlengkapan trekking yang memadai, mendaftar melalui kanal resmi, dan mematuhi pedoman keberlanjutan yang telah ditetapkan.
Outfit Kekinian & Skincare Viral Pilihan Warganet
Koleksi fashion terpopuler, serum perawatan kulit, dan parfum aroma mewah bergaransi original.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.