Mendag Harap Tak Ada Impor KRL Bekas Jepang, Minta Pakai Produk RI
JAKARTA / INDONESIA — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pada Rabu (14 Oktober 2026) bahwa hingga kini belum ada permohonan izin impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang.
Budi menambahkan, “Yang jelas sampai sekarang belum ada pengajuan, ya. Saya berharap opsi impor KRL bekas asal Jepang tidak perlu dilakukan. Lebih baik menggunakan produksi di dalam negeri yang sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan.”
Mengapa KRL Jadi Sorotan?
KRL merupakan tulang punggung transportasi massal di Jakarta dan sekitarnya. Kebutuhan akan penambahan armada terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan tekanan pada jaringan rel yang sudah padat. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan penambahan sekitar 300 unit kereta baru dalam lima tahun ke depan.
Jika impor bekas dipertimbangkan, faktor biaya awal yang tampak lebih murah sering menjadi alasan utama. Namun, perhitungan total biaya kepemilikan (total cost of ownership) meliputi perawatan, suku cadang, dan kompatibilitas sistem kontrol yang sudah terstandarisasi di Indonesia. Unit bekas biasanya memerlukan retrofit signifikan, yang dapat menambah beban anggaran dan menunda operasional.
Dampak Ekonomi dari Pilihan Produksi Lokal
Industri perkeretaapian dalam negeri, yang dipimpin oleh perusahaan seperti PT Industri Kereta Api (INKA) dan PT Pindad (melalui divisi transportasi), telah menyiapkan rangkaian model KRL berbasis teknologi domestik. Menurut data Kementerian Perindustrian, kapasitas produksi INKA mencapai 120 unit per tahun, dengan rencana peningkatan lini perakitan di Manggarai.
Jika pemerintah mengutamakan produk dalam negeri, dampaknya meliputi:
- Penciptaan lapangan kerja: Setiap unit KRL yang dirakit memerlukan sekitar 150 pekerja langsung, mulai dari perakitan hingga pengujian.
- Transfer teknologi: Proyek KRL lokal melibatkan kolaborasi dengan perusahaan Jepang seperti Kawasaki dan Hitachi dalam bentuk joint venture, sehingga pengetahuan teknis tetap berada di Indonesia.
- Stabilisasi nilai tukar: Mengurangi kebutuhan devisa untuk pembelian unit bekas dapat menahan tekanan pada kurs rupiah, terutama pada saat nilai tukar sedang lemah.
Sebaliknya, impor KRL bekas dapat menurunkan permintaan pada industri lokal, mengurangi potensi ekspor KRL ke pasar regional seperti Thailand dan Filipina, serta menurunkan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Suara Industri dan Pengamat
Pengamat ekonomi, Dr. Rina Suryani (Lembaga Kajian Ekonomi dan Kebijakan), menilai kebijakan Mendag selaras dengan agenda “Made in Indonesia” yang dicanangkan pemerintah. “Jika kita mengandalkan barang bekas, kita menunda pengembangan ekosistem industri dalam negeri yang masih berpotensi menghasilkan nilai tambah signifikan,” ujarnya.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Kereta Api (APKA) mengingatkan bahwa ketersediaan komponen sparepart untuk unit bekas masih menjadi tantangan. “Ketersediaan suku cadang khusus, misalnya sistem kontrol otomatis, tidak selalu dapat dipenuhi secara lokal, sehingga biaya pemeliharaan dapat melambung,” kata ketua APKA, Andi Prasetyo.
Apa Artinya Bagi Penumpang?
Bagi pengguna KRL, kebijakan ini berarti kemungkinan tarif tidak akan naik secara signifikan dalam jangka pendek. Unit baru yang diproduksi dalam negeri biasanya memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi, sehingga biaya operasional dapat ditekan dan potensi penurunan tarif dapat terjaga.
Tips praktis: Pantau pengumuman resmi Kementerian Perhubungan atau KCI tentang jadwal penambahan armada. Jika Anda merencanakan perjalanan harian, perhatikan perubahan jadwal atau rute yang mungkin muncul akibat penambahan unit baru, dan manfaatkan aplikasi resmi KCI untuk mengatur waktu keberangkatan sehingga terhindar dari kepadatan jam sibuk.
Pernyataan Mendag Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk mengutamakan produksi KRL dalam negeri, menghindari impor unit bekas yang berpotensi menambah beban biaya jangka panjang. Langkah ini tidak hanya mendukung industri manufaktur Indonesia, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat dengan menjaga stabilitas tarif transportasi massal. Pengawasan berkelanjutan terhadap realisasi target produksi lokal dan transparansi proses pengadaan akan menjadi kunci untuk memastikan manfaat ekonomi ini dirasakan langsung oleh penumpang KRL di seluruh Jabodetabek.
Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari
Koleksi charger GaN, TWS noise-cancelling, kabel braided, dan stand HP terlaris diskon hingga 60%.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.