Surat Utang Syariah RI Laris Diburu Asing, Bos BI: Sekarang Bergeser!
JAKARTA / INDONESIA — Bank Indonesia Gubernur Destry Damayanti mengamati peningkatan minat investor asing terhadap sukuk syariah, menandai pergeseran preferensi pasar ke instrumen yang didukung oleh aset nyata.
Pada pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di JCIC, Jakarta, Destry menjelaskan bahwa karakteristik sukuk—dengan underlying asset (aset dasar) yang konkret—menjadikan produk ini lebih tahan terhadap fluktuasi pasar global.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, investor mencari stabilitas. Sukuk, yang dipatok pada proyek infrastruktur, energi terbarukan, atau properti, menawarkan jaminan nyata yang tidak dimiliki oleh obligasi konvensional. Destry menegaskan bahwa “sukuk tetap stabil karena memiliki underlyingnya,” dan menekankan bahwa pemerintah Indonesia secara aktif memperluas akses pasar internasional melalui penerbitan sukuk global.
Pemerintah telah mengeksekusi strategi ini sejak 2018 dengan Green Sukuk Indonesia, sebuah obligasi hijau yang didanai proyek ramah lingkungan. Akumulasi penerbitannya di pasar global telah mencapai US$7,7 miliar, sedangkan di pasar domestik nilainya tercatat sebesar Rp108,9 triliun. Penerbitan ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam keuangan syariah, tetapi juga menambah diversifikasi portofolio investor global.
Perubahan ini tidak terjadi secara tiba‑tiba. Selama beberapa tahun terakhir, pasar modal Indonesia mengalami volatilitas, sementara investor asing meminjamkan modal ke sukuk sebagai alternatif aman. Menurut data Bank Indonesia, volume perdagangan sukuk di pasar domestik meningkat 12,5% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara perdagangan sukuk global meningkat 18,3%. Peningkatan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal dan regulasi yang mendukung keuangan syariah.
Namun, dinamika ini juga menimbulkan tantangan. Penerbitan sukuk global menuntut transparansi dan kepatuhan terhadap standar internasional, termasuk standar pelaporan keuangan yang ketat dan audit independen. Investor harus menilai risiko kredit yang terkait dengan proyek underlying, serta potensi perubahan regulasi di negara penerbit. Selain itu, biaya penerbitan sukuk dapat lebih tinggi dibandingkan obligasi konvensional, karena perlu memenuhi persyaratan Sharia dan audit sukuk.
Di sisi lain, pemerintah memanfaatkan peluang ini untuk mendiversifikasi sumber pendanaan. Penerbitan sukuk global membuka akses ke modal asing yang lebih luas, mengurangi ketergantungan pada pinjaman domestik. Hal ini sejalan dengan strategi fiskal pemerintah untuk menurunkan defisit anggaran dan memperkuat likuiditas. Penerbitan Green Sukuk, khususnya, juga mendukung proyek infrastruktur hijau, sejalan dengan target Indonesia untuk meningkatkan investasi hijau.
Bagi investor individu, peluang ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam tentang produk. Sebelum memutuskan membeli sukuk, penting untuk memeriksa rating kredit lembaga pemeringkat, memverifikasi keberlanjutan proyek underlying, dan mengevaluasi struktur biaya. Selain itu, diversifikasi portofolio dengan kombinasi sukuk dan instrumen keuangan konvensional dapat mengurangi risiko eksposur pasar.
Secara keseluruhan, pergeseran minat investor asing ke sukuk syariah menandai langkah penting bagi Indonesia dalam memperluas peran keuangan syariah. Penerbitan sukuk global, termasuk Green Sukuk, tidak hanya memperkuat posisi fiskal negara, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang berkelanjutan dan stabil. Dengan memahami mekanisme underlying asset dan risiko terkait, investor dapat memanfaatkan tren ini secara bijaksana, memaksimalkan potensi keuntungan sekaligus mengamankan posisi keuangan mereka di tengah ketidakpastian pasar global.
Jersey, Sepatu Lari & Perlengkapan Olahraga
Pilihan jersey suporter klub, raket bulutangkis, dan sepatu olahraga ringan ber-cashback.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.