BREAKING
Soroti Karhutla, Ini Respons 9 Perusahaan Termasuk Emiten Haji Isam
KABARVIRAL 62
KURASI & RINGKASAN BERITA
Gaya Hidup & Karir

Saran Dokter: Jangan Pakai Lensa Kontak Saat Naik Pesawat

Saran Dokter: Jangan Pakai Lensa Kontak Saat Naik Pesawat
Foto & Sumber: detikTravel

Udara di dalam kabin pesawat biasanya memiliki kelembapan relatif di kisaran 10–20 %, jauh di bawah standar kenyamanan indoor (30–60 %).

“Kelembapan yang sangat rendah di kabin dapat menghilangkan cairan pelumas pada lensa, membuat permukaan mata menjadi kering dan sensitif,” ujar Kattouf dalam wawancara yang dikutip oleh Fox News pada 15 Oktober 2026. Ia menambahkan bahwa mata yang sudah kering sebelum naik pesawat—misalnya karena penggunaan layar elektronik berjam‑jam atau kondisi medis seperti sindrom mata kering—akan lebih rentan mengalami komplikasi.

Mengapa Kelembapan Kabin Begitu Rendah?

Tekanan kabin dipertahankan pada level setara dengan ketinggian 6.000–8.000 ft (sekitar 1.800–2.400 m). Pada ketinggian tersebut, udara mengembang dan menurunkan kapasitas menahan uap air. Sistem sirkulasi udara pesawat biasanya mengandalkan recirculation (sirkulasi ulang) dengan sedikit penambahan udara luar, sehingga kadar kelembapan tetap rendah. Penelitian yang dipublikasikan dalam Aviation, Space, and Environmental Medicine (2023) mencatat rata‑rata kelembapan kabin sebesar 12 % pada penerbangan internasional, cukup untuk mengeringkan permukaan kornea dalam 2‑3 jam.

BACA JUGA Pesawat Malaysia Airlines Kekurangan Oksigen, 78 Penumpang Gagal Terbang

Dampak Kering pada Pengguna Lensa Kontak

Lensa kontak modern—baik tipe hidrofobik (silicone‑hydrogel) maupun hidrogel tradisional—menyerap air untuk tetap lentur dan menempel pada kornea. Ketika udara kering menurunkan kadar air pada lensa, terjadi:

  • Meningkatnya friksi antara lensa dan kornea, menimbulkan rasa gatal atau terbakar.
  • Penurunan transmisi oksigen, yang dapat memicu hipoksia kornea (kekurangan oksigen) dan memperlambat penyembuhan luka mikro.
  • Peningkatan risiko mikroorganisme karena lapisan air berkurang, mempermudah bakteri menempel pada lensa.

Kasus ringan biasanya berakhir dengan rasa tidak nyaman yang dapat diatasi dengan tetes mata. Namun, pada beberapa penumpang, iritasi berlanjut menjadi konjungtivitis (radang selaput mata) atau ulkus kornea, kondisi yang memerlukan perawatan dokter.

Apa Kata Ahli Lain?

Dr. Rina Sutanto, dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Jakarta, menegaskan bahwa fenomena yang sama berlaku pada penerbangan domestik. “Kebanyakan maskapai Indonesia mengoperasikan kabin dengan kelembapan serupa, sehingga penumpang yang memakai lensa kontak selama penerbangan lebih dari 4 jam sebaiknya mempertimbangkan alternatif,” ujarnya.

Sementara itu, Asosiasi Lensa Kontak Internasional (ICL) mencatat bahwa tidak ada regulasi khusus yang melarang penggunaan lensa selama penerbangan, namun mereka menyarankan pemakaian tetes mata berbasis lubrikan (artificial tears) yang tidak mengandung preservatif sebelum dan sesudah terbang.

Langkah Praktis untuk Penumpang

Berikut rangkaian tindakan yang dapat mengurangi risiko mata kering pada penerbangan panjang:

BACA JUGA Kesalahan Prosedural atau Ancaman Nyata? Misteri Kode Darurat Pesawat Air India di Jaipur
  • Hindari lensa kontak 24 jam sebelum keberangkatan bila memungkinkan; gunakan kacamata sebagai alternatif.
  • Gunakan tetes mata pelumas (bukan yang mengandung vasokonstriktor) setidaknya dua kali sebelum naik, dan sekali setiap dua jam selama penerbangan.
  • Minum cukup air; dehidrasi sistemik memperparah kekeringan mata.
  • Sesuaikan pencahayaan layar perangkat elektronik, karena cahaya biru dapat menurunkan produksi air mata.
  • Jika harus memakai lensa, pilih tipe silikon‑hydrogel dengan kadar kadar air tinggi (≥ 40 %) dan pastikan kebersihan lensa sesuai anjuran produsen.

Kapan Harus Menghubungi Dokter

Jika rasa terbakar tidak mereda setelah penggunaan tetes mata, atau muncul gejala seperti penglihatan kabur, mata berair berlebihan, atau nyeri tajam, segeralah konsultasikan ke dokter mata. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang berpotensi mengganggu aktivitas pasca‑penerbangan.

Perspektif Kebijakan

Meskipun tidak ada regulasi khusus, beberapa otoritas penerbangan sipil (misalnya FAA di Amerika Serikat) telah mengeluarkan panduan kesehatan mata dalam materi orientasi penumpang, namun tidak diwajibkan sebagai standar layanan kabin. Mengingat dampak kesehatan yang dapat mempengaruhi produktivitas penumpang, ada ruang bagi regulator untuk menambahkan rekomendasi kelembapan kabin atau menyediakan fasilitas tetes mata di kursi kelas ekonomi.

Kesimpulan: Kelembapan rendah di kabin pesawat memang dapat mengeringkan lensa kontak dan memperburuk kondisi mata. Penumpang yang mengandalkan lensa selama penerbangan jarak jauh sebaiknya menyiapkan tetes mata pelumas, menjaga hidrasi, atau beralih ke kacamata. Dengan langkah preventif sederhana, risiko iritasi hingga komplikasi mata dapat diminimalisir, menjadikan perjalanan udara lebih nyaman tanpa mengorbankan kesehatan penglihatan.

Akses Liputan Penuh • Bebas Biaya • KabarViral 62
Dikutip & dirangkum dari liputan lapangan detikTravel. Baca Berita Asli di detikTravel →
Bagaimana tanggapan Anda atas liputan ini?
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi liputan ini.
LIFESTYLE & BEAUTY Shopee Pilihan Redaksi

Outfit Kekinian & Skincare Viral Pilihan Warganet

Koleksi fashion terpopuler, serum perawatan kulit, dan parfum aroma mewah bergaransi original.

Cek Koleksi Viral →
HOSTING & DOMAIN Exabytes Indonesia
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat

Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.

Cek Promo →
SEBELUMNYA Balon Udara Wonosobo Mendunia, Setelah Meksiko, Tahun Depan ke Brasil SELANJUTNYA Aksi Bahlil Ini Bisa Ngerem Banjirnya Pasokan Nikel RI di Dunia
LIFESTYLE & BEAUTY Outfit Kekinian & Skincare Viral Pilihan Warganet
Cek Koleksi Viral →
Tautan berhasil disalin ke clipboard!