BREAKING
7 Ciri-Ciri Kecerdasan Emosionalmu Rendah, Apa Saja Tandanya?
KABARVIRAL 62
KURASI & RINGKASAN BERITA
Tekno & AI

Science Corporation Tanam Chip Restorasi Penglihatan PRIMA pada Pasien Pertama Penyakit Stargardt

Science Corporation Tanam Chip Restorasi Penglihatan PRIMA pada Pasien Pertama Penyakit Stargardt
Foto & Sumber: TechCrunch

Science Corporation mengumumkan bahwa chip restorasi penglihatan PRIMA telah ditanamkan pada pasien pertama yang menderita Stargardt disease, sebuah kelainan mata turunan yang secara bertahap merusak penglihatan sentral.

Stargardt disease menyerang lapisan retina luar, tempat sel fotoreseptor yang menangkap cahaya berada. Sel‑sel ini mati perlahan, sementara retina dalam—yang menyalurkan sinyal visual ke otak—masih dapat berfungsi. Akibatnya, penderita mengalami “titik buta” di tengah bidang pandang yang terus membesar. Menurut data organisasi kebutaan internasional, sekitar 150.000 orang di seluruh dunia telah kehilangan penglihatan akibat penyakit ini, dan hingga kini belum ada terapi yang terbukti menyembuhkan.

PRIMA, yang sebelumnya sudah tersedia secara komersial di Eropa untuk pasien dengan atrofia geografis (varian lanjut degenerasi makula usia), bekerja dengan meniru sinyal listrik alami yang biasanya dihasilkan oleh retina. “Retina adalah bagian dari sistem saraf pusat,” kata Hodak. “Kita menganggap implan koklea, prostesis retina, dan prostesis motorik semua merupakan varian BCI.” Dengan menyalurkan potensi listrik melalui saraf optik, chip ini berupaya mengembalikan aliran informasi visual ke otak.

Teknologi PRIMA terdiri dari tiga komponen utama: mikroelektroda yang menempel pada jaringan retina, prosesor miniatur yang mengubah data optik menjadi impuls listrik, dan unit pengisian nirkabel yang memungkinkan pengisian daya tanpa prosedur invasif berulang. Semua komponen dirancang agar dapat dipasang melalui pembedahan mikro‑invasif, dengan durasi operasi kurang dari dua jam dan masa pemulihan yang relatif singkat.

BACA JUGA CEO Cerebras: Masa Depan AI Perangkat Rumah Sudah Dekat, Menyertakan Pembelian Online

Meskipun keberhasilan pada pasien pertama menandakan terobosan, para ahli menekankan bahwa data jangka panjang masih diperlukan. “Implan ini masih dalam fase awal, sehingga kami belum tahu berapa lama fungsi visual dapat dipertahankan atau apakah ada risiko komplikasi jaringan,” ujar Dr. Lina Suryani, ahli retina di Rumah Sakit Mata Nasional. “Pengawasan klinis selama beberapa tahun ke depan menjadi kunci untuk menilai keamanan dan efektivitasnya.”

Dari sisi regulasi, PRIMA telah memperoleh persetujuan CE (Conformité Européenne) di Uni Eropa, yang menandakan kepatuhan pada standar keamanan medis Eropa. Namun, di Indonesia, otoritas obat dan makanan (BPOM) belum mengeluarkan izin edar, sehingga akses bagi pasien lokal masih terbatas. Biaya prosedur di pasar Eropa dilaporkan berkisar antara €30.000–€45.000 (sekitar Rp 530–795 juta), menimbulkan pertanyaan tentang keterjangkauan bagi mayoritas penderita yang umumnya berpendapatan menengah ke bawah.

Max Hodak, mantan presiden dan co‑founder Neuralink, menegaskan visi jangka panjangnya: “BCI tidak hanya untuk mengendalikan komputer; kami ingin memperluasnya menjadi platform medis yang dapat memperbaiki fungsi organ yang hilang.” Ia menambahkan bahwa pendekatan modular PRIMA memungkinkan adaptasi untuk penyakit retina lain, termasuk retinitis pigmentosa dan degenerasi makula terkait usia.

BACA JUGA Robot Pabrik Ganti Tugas dalam Menit, Inovasi Industrial Next di TechCrunch Disrupt 2026

Bagi pasien Stargardt yang mempertimbangkan terapi ini, langkah pertama tetap konsultasi dengan dokter spesialis retina untuk menilai kelayakan klinis. Mengingat masih terbatasnya data keamanan, penting bagi mereka untuk menanyakan rincian prosedur, potensi komplikasi, serta skema biaya lengkap, termasuk dukungan asuransi atau program subsidi.

Ke depannya, keberhasilan PRIMA pada satu pasien dapat mendorong lebih banyak uji klinis multinasional, mempercepat proses regulasi, dan menurunkan biaya produksi melalui skala ekonomi. Jika terbukti aman dan efektif, teknologi ini berpotensi mengubah paradigma penanganan kebutaan inheren, menawarkan harapan baru bagi jutaan orang yang selama ini terpinggirkan oleh keterbatasan terapi konvensional.

Akses Liputan Penuh • Bebas Biaya • KabarViral 62
Dikutip & dirangkum dari liputan lapangan TechCrunch. Baca Berita Asli di TechCrunch →
Bagaimana tanggapan Anda atas liputan ini?
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi liputan ini.
GADGET & ELEKTRONIK Shopee Pilihan Redaksi

Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari

Koleksi charger GaN, TWS noise-cancelling, kabel braided, dan stand HP terlaris diskon hingga 60%.

Cek Promo Gadget →
HOSTING & DOMAIN Exabytes Indonesia
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat

Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.

Cek Promo →
SEBELUMNYA DOJ Ungkap Ratusan Laptop “Farm” di Texas Dipakai Korea Utara untuk Menyusup ke Lebih dari 70 Perusahaan AS SELANJUTNYA CEO Cerebras: Masa Depan AI Perangkat Rumah Sudah Dekat, Menyertakan Pembelian Online
GADGET & ELEKTRONIK Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari
Cek Promo Gadget →
Tautan berhasil disalin ke clipboard!