AI Berpotensi Merombak Risiko Senjata Biologis, Pakar Ungkap Batasan dan Ancaman Nyata
JAKARTA / INDONESIA — Dalam pidato tahunan tentang ancaman keamanan nasional, Sir Ken McCallum, Direktur Jenderal MI5, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat “mengubah taruhan” dalam pengembangan senjata biologis.
Pernyataan itu menyoroti dua skenario utama: aktor tidak berpengalaman yang mengandalkan chatbot AI untuk merakit racun di laboratorium rumah, serta negara‑negara atau organisasi berpendanaan tinggi yang memanfaatkan algoritma untuk mempercepat modifikasi patogen berbahaya.
AI chatbot, seperti Claude buatan Anthropic, mampu merangkai literatur ilmiah, menyarankan prosedur percobaan, dan men-debug kegagalan eksperimen. Bagi kelompok teroris atau individu dengan latar belakang minim, kemampuan ini dapat menurunkan ambang masuk ke dunia bioteknologi. Contoh konkret muncul pada 2023, ketika polisi India menggagalkan dugaan plot bioterorisme. Sebuah tim yang dipimpin dokter itu menggunakan kueri chatbot AI serta pencarian berbasis AI untuk meracik ricin—racun mematikan—dengan peralatan dapur. Meskipun belum terbukti secara pasti bahwa jawaban AI menjadi faktor penentu, kasus tersebut menunjukkan AI dapat menyediakan “informasi relevan yang berbahaya” bila disalahgunakan.
Ancaman yang lebih berat datang dari entitas yang sudah memiliki fasilitas biosafety level 3 atau 4 (laboratorium dengan kontainer keamanan tinggi). Dr. Filippa Lentzos, peneliti keamanan internasional di King's College London, menjelaskan bahwa AI tidak menggantikan keahlian ilmiah, melainkan memperkuatnya. “AI mengamplifikasi keahlian yang sudah ada,” ujarnya. Dengan mengolah data genomik, algoritma dapat mengidentifikasi mutasi yang meningkatkan virulensi atau resistensi obat pada patogen yang sudah dikenal, seperti virus flu burung (H5N1).
Risiko paling futuristik adalah penciptaan patogen sintetis yang belum pernah ada di alam. AI generatif dapat merancang urutan asam ribonukleat (RNA) atau protein yang secara teoritis tahan terhadap antibiotik atau antivirus yang ada. Namun, realisasi skenario ini masih terhalang oleh tiga kendala utama:
- Ketersediaan bahan biologis – Memproduksi virus atau toksin memerlukan bahan kimia, kultur sel, dan peralatan steril yang tidak mudah diakses di luar fasilitas khusus.
- Kebutuhan keahlian laboratorium – Meskipun AI memberi panduan, eksekusi eksperimental memerlukan pengetahuan mikrobiologi, teknik kultur, dan prosedur keselamatan yang tinggi.
- Pengawasan regulasi – Badan seperti Otoritas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, serta Komisi Keamanan Nasional, memiliki mekanisme pelaporan bahan berbahaya; pelanggaran dapat dikenai sanksi pidana berat.
Kasus lain yang menambah kekhawatiran melibatkan Anthropic. Pada September 2025, perusahaan melaporkan lima insiden di mana ilmuwan dari negara‑negara tak disebutkan mencoba memanfaatkan chatbot Claude untuk merancang mutasi pada virus flu burung yang dapat menyebar pada mamalia. Setelah diblokir, para peneliti tersebut menemukan “workaround” untuk mengakses kembali fungsi berbahaya. Perusahaan menegaskan bahwa penggunaan AI dalam riset patogen berpotensi ganda: membantu ilmuwan memprediksi evolusi virus untuk persiapan vaksin, sekaligus membuka celah bagi pihak yang berniat jahat.
Di Indonesia, potensi penyalahgunaan AI dalam bioteknologi belum menjadi sorotan utama, namun kerentanan tetap ada. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 12/2023 tentang Pengendalian Bahan Berbahaya, namun belum ada kebijakan khusus yang mengatur penggunaan AI generatif dalam riset biologis. Lembaga seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dapat berperan mengembangkan pedoman etika AI, termasuk audit kode sumber chatbot yang berpotensi disalahgunakan.
Langkah konkret yang dapat diambil pembaca meliputi:
- Memperkuat literasi digital untuk mengenali konten AI yang berisiko, terutama pada platform publik.
- Mengawasi aktivitas pencarian terkait bahan kimia atau biologis berbahaya, dan melaporkan ke otoritas jika menemukan pola mencurigakan.
- Mendorong transparansi perusahaan AI dalam melaporkan penyalahgunaan layanan mereka, serta mendukung regulasi yang menuntut audit keamanan konten.
AI memang membuka pintu baru bagi inovasi bioteknologi, namun tanpa pengawasan yang ketat, teknologi tersebut dapat mempercepat jalur gelap menuju senjata biologis. Mengingat AI tidak menghilangkan kebutuhan akan keahlian ilmiah, kolaborasi antara ilmuwan, regulator, dan penyedia platform AI menjadi kunci untuk menyeimbangkan manfaat dan risiko. Kewaspadaan publik serta kebijakan yang adaptif akan menentukan apakah AI menjadi alat untuk melindungi kesehatan global atau menjadi katalis ancaman bioterorisme yang lebih canggih.
Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari
Koleksi charger GaN, TWS noise-cancelling, kabel braided, dan stand HP terlaris diskon hingga 60%.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.