Katarak Mengancam Jutaan Mata, Begini Kondisinya di Indonesia
JAKARTA / INDONESIA — Katarak—bisa dibilang “kabut” yang menutupi lensa mata—kini menjadi isu kesehatan yang menggelitik perhatian publik. Pada Hari Penglihatan Sedunia 2026 (8 Oktober), data terbaru mengungkap bahwa lebih dari delapan puluh persen kebutaan pada orang berusia 50 tahun ke atas di Indonesia disebabkan oleh katarak.
Pada Hari Penglihatan Sedunia 2026 (8 Oktober), data terbaru mengungkap bahwa lebih dari delapan puluh persen kebutaan pada orang berusia 50 tahun ke atas di Indonesia disebabkan oleh katarak. Jika tidak ditangani, “kabut” ini bukan cuma menghalangi pandangan, tapi juga menggerogoti kualitas hidup, pekerjaan, bahkan keselamatan sehari‑hari.
Menurut Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed, Ketua Pengurus Pusat PERDAMI, 81,2 % kasus kebutaan senior berakar dari katarak. Angka itu berarti hampir delapan dari sepuluh orang tua yang kehilangan penglihatan di tanah air sebenarnya masih bisa “dibersihkan” lewat operasi sederhana. Pemerintah menanggapi dengan mengangkat tema nasional Hari Penglihatan Sedunia 2026: “Skrining Mata, Langkah Kecil untuk Manfaat Besar.” Ide dasarnya? Memeriksa mata lebih awal, sama seperti mengecek tekanan ban mobil sebelum menempuh perjalanan jauh.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA, menegaskan bahwa penglihatan bukan sekadar “alat” melihat, melainkan “kunci” yang membuka pintu pendidikan, produktivitas, dan kemandirian. “Jangan menunggu sampai mata mengalami gangguan yang berat untuk melakukan pemeriksaan,” ujarnya dalam briefing 13 Oktober 2026. Ia mencontohkan: “Jika mata Anda mulai terasa buram, itu seperti sinyal lampu lalu lintas yang berubah merah—segera berhenti, cek, dan perbaiki sebelum melaju lagi.”
Untuk mengubah sinyal itu menjadi hijau, pemerintah menambahkan skrining mata ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026. Di puskesmas atau klinik primer, warga dapat menjalani tes cepat yang mengukur ketajaman visual dan mendeteksi kelainan refraksi (misalnya rabun jauh atau dekat). Bila ada tanda‑tanda “kabut” katarak, dokter akan merujuk ke spesialis mata untuk pemeriksaan lanjutan. Skrining di sini bukan akhir cerita, melainkan “detektor asap” yang memberi peringatan dini sebelum kebakaran meluas.
Menerjemahkan istilah medis ke bahasa sehari‑hari, katarak adalah penumpukan protein di lensa mata yang membuatnya menjadi keruh, mirip kaca jendela yang berdebu. Operasi katarak, yang biasanya selesai dalam 15‑20 menit, berfungsi mengangkat lensa “berdebu” itu dan menggantinya dengan lensa buatan yang jernih—seperti mengganti kaca jendela yang pecah dengan yang baru. Proses ini tidak memerlukan rawat inap lama, dan tingkat keberhasilan mencapai 98 %.
Apa artinya bagi Anda? Jika Anda atau orang terdekat berusia 50 tahun ke atas, jadwalkan skrining mata saat kunjungan CKG atau kunjungi puskesmas terdekat. Perhatikan gejala sederhana: penglihatan yang makin buram, silau berlebih, atau warna yang tampak pudar. Dengan langkah kecil ini, Anda dapat menghindari “kabut” yang menghalangi pandangan dan tetap aktif dalam aktivitas sehari‑hari.
Masa depan penglihatan Indonesia kini menanti keputusan kecil dari tiap rumah tangga. Pemerintah sudah menyiapkan jalur pemeriksaan gratis; tugas selanjutnya ada pada kita untuk memanfaatkan kesempatan itu sebelum katarak menutup tirai pandangan kita.
Aksesoris Motor, Helm & Perawatan Kendaraan
Pilihan helm SNI, holder HP motor anti-getar, dan cairan perawatan bodi kendaraan terlaris.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.