BREAKING
Diplomasi Ekonomi Halus: Strategi Indonesia Menembus Pasar Ritel Paris Melalui Kolaborasi Desainer
KABARVIRAL 62
KURASI & RINGKASAN BERITA
Otomotif & Mobilitas

BYD Punya SPKLU Super Ngebut di RI, Ngecas 10-97% Cuma Butuh 9 Menit

BYD Punya SPKLU Super Ngebut di RI, Ngecas 10-97% Cuma Butuh 9 Menit
Foto & Sumber: detikOto

BYD resmi memperkenalkan jaringan stasiun pengisian cepat (Flash Charging) dengan daya 1.500 kW per titik di Indonesia. Menurut pernyataan Vice President BYD Asia Pacific, Liu Xueliang, sistem ini dapat mengisi batera...

Menurut pernyataan Vice President BYD Asia Pacific, Liu Xueliang, sistem ini dapat mengisi baterai mobil listrik dari 10 % hingga 97 % dalam waktu sembilan menit. Peluncuran di Jakarta, 14 Oktober 2026, disertai tur ke beberapa provinsi—Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan Jabodetabek—untuk menilai kebutuhan konsumen yang selama ini mengeluhkan keterbatasan akses pengisian.

Spesifikasi Teknis dan Kecepatan Pengisian

  • Daya per gun: 1.500 kW (kilowatt), setara dengan 15 menit mengisi mobil bensin berkapasitas 50 liter.
  • Rentang pengisian: 10 % → 97 % dalam 9 menit, mengurangi waktu tunggu hingga di bawah 10 menit.
  • Standar pengisian: Menggunakan protokol CCS (Combined Charging System) yang kompatibel dengan mayoritas EV di pasar domestik.
BACA JUGA Ngecas Mobil Listrik BYD Ini Lebih Cepat dari Antre BBM di SPBU

Istilah WLTP (Worldwide Harmonised Light Vehicles Test Procedure) yang menjadi acuan jarak tempuh resmi, biasanya menilai baterai pada 80 % kapasitas; dengan Flash Charging, pengguna dapat mencapai hampir penuh dalam satu jeda kopi.

Dampak pada Infrastruktur EV di Tanah Air

Indonesia menargetkan 2,5 juta kendaraan listrik pada 2030, namun jaringan pengisian masih terbilang tipis. Data Kementerian Energi menyebutkan kurang dari 1.200 titik pengisian publik pada akhir 2025, kebanyakan berkapasitas 50‑150 kW. Flash Charging BYD menambah dimensi baru dengan daya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi, berpotensi mempercepat adopsi EV di wilayah dengan mobilitas tinggi.

Namun, kebutuhan listrik sebesar 1,5 MW per gun menuntut pasokan yang stabil. Pakar energi dari Lembaga Penelitian Energi dan Lingkungan (LPELI), Dr. Rina Suryani, mengingatkan, “Jika stasiun ini ditempatkan di area yang belum memiliki jaringan 20 kV, operator harus menginvestasikan trafo dan sistem manajemen beban. Tanpa itu, risiko pemadaman atau penurunan kualitas listrik meningkat.”

Harga dan Model Bisnis

BYD belum mengumumkan tarif pengisian, namun perkiraan awal mengacu pada tarif premium yang dikenakan di negara-negara dengan infrastruktur serupa, yakni antara Rp 30.000‑Rp 45.000 per kWh. Mengingat satu sesi 9 menit dapat mengisi sekitar 70 kWh (berdasarkan baterai 75 kWh), biaya per pengisian diperkirakan berada di kisaran Rp 2,1‑3,2 juta.

Untuk konsumen, BYD menawarkan paket langganan bulanan yang mencakup akses tak terbatas ke jaringan Flash Charging dengan tarif tetap. Model ini mirip dengan layanan “membership” yang sudah diterapkan oleh operator stasiun pengisian lain di Asia Tenggara.

Respon Pasar dan Tantangan Operasional

Konsumen yang diinterview di Bali dan Kalimantan menilai kecepatan pengisian sebagai “penyelesaian utama” yang selama ini menghambat keputusan membeli EV. “Saya bisa mengisi mobil dalam jeda makan siang, tidak perlu menunggu setengah jam,” ujar Budi Santoso, pemilik mobil listrik model BYD Dolphin.

BACA JUGA Smart #2 Meluncur: Mobil Listrik Buat 2 Penumpang, Harga Rp 400 Jutaan

Di sisi lain, asosiasi dealer otomotif menyoroti biaya instalasi yang tinggi. “Satu unit charger 1,5 MW dapat menelan investasi awal hingga Rp 30 miliar, termasuk infrastruktur kelistrikan dan lahan. Tanpa dukungan pemerintah atau skema pembiayaan, rollout massal akan lambat,” kata Andi Pratama, Ketua Asosiasi Dealer Mobil Listrik Indonesia (ADMLI).

Perspektif Kebijakan

Pemerintah telah mengeluarkan insentif PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) 0 % untuk EV serta subsidi pembangunan stasiun pengisian. Namun, regulasi tarif listrik untuk charger berkapasitas tinggi belum sepenuhnya jelas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Energi diharapkan menyelaraskan kebijakan tarif agar operator tidak menanggung beban biaya listrik yang melampaui pendapatan dari tarif pengisian.

Takeaway untuk Pembaca

  • Jika Anda mempertimbangkan EV, cek keberadaan Flash Charging di rute harian; kecepatan pengisian dapat mengurangi “range anxiety”.
  • Pemilik usaha dapat menilai peluang investasi dengan memperhitungkan biaya infrastruktur listrik dan potensi pendapatan dari tarif premium.
  • Pengguna sebaiknya memperhatikan tarif per kWh dan membandingkan paket langganan untuk mengoptimalkan biaya operasional kendaraan listrik.

Flash Charging BYD menandai langkah signifikan dalam mempercepat adopsi mobil listrik di Indonesia, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesiapan jaringan listrik, dukungan kebijakan, dan model bisnis yang dapat menyeimbangkan antara investasi tinggi dan tarif terjangkau bagi konsumen.

Akses Liputan Penuh • Bebas Biaya • KabarViral 62
Dikutip & dirangkum dari liputan lapangan detikOto. Baca Berita Asli di detikOto →
Bagaimana tanggapan Anda atas liputan ini?
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi liputan ini.
GADGET & ELEKTRONIK Shopee Pilihan Redaksi

Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari

Koleksi charger GaN, TWS noise-cancelling, kabel braided, dan stand HP terlaris diskon hingga 60%.

Cek Promo Gadget →
HOSTING & DOMAIN Exabytes Indonesia
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat

Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.

Cek Promo →
SEBELUMNYA Romain Perraud Akui Tumbang Lawan Arsenal, Calvin Verdonk Jadi Penggantikan Strategis SELANJUTNYA Farel Prayoga Kecewa Keluarga Diduga Diam-diam Jual Aset Tanah Miliknya
GADGET & ELEKTRONIK Aksesoris Gadget & Fast Charging Paling Dicari
Cek Promo Gadget →
Tautan berhasil disalin ke clipboard!