Karhutla Meluas Sampai ke Papua, Pakar UGM Ungkap Penyebabnya
JAKARTA / INDONESIA — Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) yang telah menggerogoti Sumatra dan Kalimantan kini menembus wilayah Papua, khususnya Merauke.
Pakar Kebakaran Hutan dan Lahan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, menjelaskan bahwa fenomena El Nino berperan sebagai pemicu utama. “Curah hujanya sangat minimum dan ini sudah masuk periode El Nino yang lebih dalam. Curah hujan mendekati nol, sehingga bahan bakar seperti lahan gambut menjadi jauh lebih rentan terbakar,” ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa kekeringan saja tidak cukup; kebakaran tetap memerlukan unsur pemicu (ignition) yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.
Di ekosistem non‑gambut, api biasanya terbatas pada permukaan tanaman. Sedangkan di lahan gambut, api dapat menyusup ke bawah tanah, menghasilkan “subsurface fire”. Proses deteksi dan pemadaman menjadi lebih rumit karena bara api di bawah permukaan sering tidak terlihat. “Risiko utama kebakaran gambut adalah menyisakan bara api di bawah tanah meski api di permukaan sudah tampak padam,” jelas Fiqri. Bila pemadaman atau penyiraman air hanya menyentuh lapisan atas, bara di bawah tanah tetap bertahan dan berpotensi memicu titik api baru sewaktu‑waktu.
Penyebab lain yang turut memperparah karhutla meliputi:
- Penggundulan hutan: Pembangunan infrastruktur dan lahan pertanian menambah area terbuka yang mudah terbakar.
- Penggunaan lahan gambut untuk pertanian: Pembersihan lahan dengan cara membakar meningkatkan risiko kebakaran.
- Pengelolaan lahan gambut yang buruk: Kurangnya pemeliharaan sistem irigasi dan penanaman vegetasi pengaman.
Meskipun El Nino menjadi faktor utama, interaksi antara kondisi kekeringan, lahan gambut, dan aktivitas manusia menentukan skala kebakaran. Menurut Fiqri, “kebakaran terjadi karena interaksi antara ekosistem dan sumber panas.” Oleh karena itu, upaya pencegahan harus melibatkan pengelolaan lahan yang baik, pemantauan titik panas secara real‑time, serta penegakan regulasi mengenai pembakaran terbuka.
Dampak udara pekat tidak hanya dirasakan di Indonesia. Kabut asap menurunkan indeks kualitas udara (AQI) di Malaysia dan Singapura, memicu tindakan darurat kesehatan masyarakat. Penutupan sekolah di beberapa wilayah Malaysia menyoroti dampak sosial ekonomi yang luas. Di sisi lain, penurunan kualitas udara juga berdampak pada sektor pariwisata dan produktivitas ekonomi regional.
Sumber: CNBC Indonesia (2026‑10‑15) – “Karhutla meluas sampai ke Papua, pakar UGM ungkap penyebabnya.”
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme kebakaran gambut dan peran El Nino, pihak berwenang dapat merancang strategi mitigasi yang lebih efektif. Penelitian lanjutan dan kolaborasi lintas lembaga—dari pemerintah hingga lembaga swadaya masyarakat—diperlukan untuk menanggulangi karhutla secara berkelanjutan.
Outfit Kekinian & Skincare Viral Pilihan Warganet
Koleksi fashion terpopuler, serum perawatan kulit, dan parfum aroma mewah bergaransi original.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.