BREAKING
Kapan Anak Harus Mulai Les Renang? Panduan Praktis untuk Orang Tua di Era Teknologi
KABARVIRAL 62
INDONESIA VERIFIED NEWSROOM
Internasional

Uji Coba Vaksin Hepatitis B di Guinea-Bissau Dapat Persetujuan, Menimbulkan Kontroversi Etika Internasional

Uji Coba Vaksin Hepatitis B di Guinea-Bissau Dapat Persetujuan, Menimbulkan Kontroversi Etika Internasional
Foto & Sumber: The Guardian

Sebuah uji klinis yang menunda pemberian vaksin hepatitis B (HBV) pada bayi baru lahir di Guinea-Bissau telah memperoleh lampu hijau dari komite etika Universitas Southern Denmark serta otoritas kesehatan negara terse...

Penelitian itu akan memberikan dosis pertama vaksin HBV—biasanya diberikan dalam 24 jam pertama kehidupan—kepada setengah dari peserta, sementara setengah lainnya tidak akan menerima vaksin tersebut selama enam minggu pertama. Setelah periode itu, semua anak akan dijadwalkan menerima dosis lengkap sesuai protokol standar. Peneliti menilai bahwa penundaan ini dapat mengungkap perbedaan respons imun antara bayi yang divaksinasi segera dan yang menunggu, sekaligus menguji hipotesis bahwa paparan awal terhadap patogen tertentu dapat memengaruhi perkembangan sistem kekebalan.

Namun, pendekatan ini menuai kritik tajam dari komunitas medis dan hak asasi manusia. Paul Offit, dokter penyakit menular di Children’s Hospital of Philadelphia, menegaskan bahwa “tujuan Kennedy tampaknya mengurangi dosis lahir di AS, tetapi ia tidak dapat melakukannya di sini karena standar etika yang ketat.” Offit menambahkan, “memanfaatkan negara berkembang untuk percobaan yang tidak akan diizinkan di negara maju menimbulkan pertanyaan serius tentang nilai hidup anak-anak Afrika.”

Kementerian Kesehatan Guinea‑Bissau, yang dipimpin Menteri Quinhin Nantote, awalnya menyatakan proyek tersebut ditunda setelah protes internasional. Namun, setelah tekanan diplomatik dan jaminan bahwa prosedur etika telah dipenuhi, kementerian memberi persetujuan akhir. Pejabat kesehatan menyebutkan bahwa penelitian ini akan dilaksanakan di klinik-klinik pedesaan yang sudah berkoordinasi dengan lembaga donor, dan bahwa partisipasi bersifat sukarela dengan persetujuan tertulis dari orang tua.

BACA JUGA Isaias Menjadi Badai Atlantik Pertama 2026, Diprediksi Meningkat Jadi Kategori 2 Saat Mendekati Pantai Teluk Utara AS

Dari sudut pandang kebijakan publik, uji coba ini menimbulkan dua pertanyaan utama. Pertama, apakah penundaan dosis lahir berisiko meningkatkan kasus hepatitis B pada bayi? Data WHO menunjukkan bahwa infeksi HBV pada masa bayi memiliki tingkat konversi kronis hampir 90 %, dibandingkan 5‑10 % pada orang dewasa. Kedua, apakah manfaat ilmiah yang diharapkan dapat mengimbangi potensi kerugian kesehatan pada ribuan anak?

Sebagai respons, organisasi non‑pemerintah lokal, seperti Associação de Saúde da Guiné-Bissau (ASGB), menuntut transparansi penuh mengenai protokol keselamatan, serta jaminan bahwa anak yang tidak divaksinasi pada enam minggu pertama akan dipantau secara ketat. “Kami tidak menolak penelitian ilmiah, tetapi setiap intervensi pada populasi rentan harus mengutamakan kepentingan mereka, bukan agenda politik luar negeri,” ujar ketua ASGB, Maria da Silva.

Sementara itu, badan regulasi internasional, termasuk Komite Etik Internasional (CIOMS) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang studi ini. WHO biasanya menekankan bahwa “vaksinasi lahir adalah komponen penting dalam program eliminasi hepatitis B” dan menyarankan bahwa setiap perubahan pada jadwal harus didukung oleh bukti kuat serta evaluasi risiko‑manfaat yang komprehensif.

Kritik juga datang dari kalangan akademisi di Denmark. Profesor Lars Jensen, koordinator proyek di Universitas Southern Denmark, menegaskan bahwa “penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mengubah kebijakan vaksinasi di negara lain, melainkan untuk menjawab pertanyaan ilmiah yang belum terjawab tentang imunisasi neonatal.” Ia menambahkan bahwa semua peserta akan menerima perawatan medis standar dan bahwa komite etika independen menilai risiko tambahan dapat diterima.

BACA JUGA Jurnalis Mesir Rencanakan Protes Akhir Pekan Usai Penahanan Enam Rekan dari Matsadaash

Bagi orang tua di Guinea‑Bissau, keputusan ini berarti harus menandatangani formulir persetujuan sambil menunggu informasi lengkap tentang potensi risiko. Lembaga bantuan internasional, termasuk UNICEF, telah menawarkan sesi edukasi untuk menjelaskan manfaat vaksin hepatitis B serta prosedur studi, dengan harapan mengurangi kebingungan dan menurunkan tingkat penolakan.

Uji coba ini menyoroti ketegangan antara inovasi ilmiah, kebijakan kesehatan global, dan standar etika yang berbeda di antara negara maju dan berkembang. Sementara peneliti menargetkan publikasi hasil pada 2029, respons publik dan lembaga pengawas akan menjadi faktor penentu apakah model serupa akan diadopsi di masa mendatang atau ditolak sebagai pelanggaran prinsip keadilan dalam riset medis.

Pembaca yang mempertimbangkan partisipasi atau ingin melindungi hak anak di wilayah mereka disarankan untuk meninjau dokumen persetujuan secara detail, menghubungi organisasi kesehatan lokal, serta mengikuti perkembangan kebijakan vaksinasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan setempat.

Dikutip & dirangkum dari liputan lapangan The Guardian. Baca Berita Asli di The Guardian →
Bagaimana tanggapan Anda atas liputan ini?
PROMO SPESIAL HARI INI Shopee Pilihan Redaksi

Koleksi Promo Terlaris & Diskon Kilat Shopee

Penawaran produk terfavorit pilihan warganet dengan voucher cashback, diskon kilat, dan bebas ongkir.

Cek Promo Kilat →
HOSTING & DOMAIN Exabytes Indonesia
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat

Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.

Cek Promo →
SEBELUMNYA Kabut Asap Indonesia Bikin Maskapai Malaysia Batal Terbang ke Singapura SELANJUTNYA Navi Pillay Raih Nobel Perdamaian atas Upaya Penegakan Hukum Internasional, Israel Gugat Legitimasi Penghargaan
Tautan berhasil disalin ke clipboard!