Warga RI Lagi Ogah-ogahan Beli Baju Baru, Bos Mal Ungkap Penyebabnya
JAKARTA / INDONESIA — Jakarta, CNBC Indonesia - Toko pakaian di pusat perbelanjaan menghadapi tantangan ketika aktivitas pengunjung mal masih relatif ramai, tetapi transaksi belum tentu meningkat. Situasi ini berkaitan dengan pola belanja masyarakat yang berubah selama periode low season industri ritel pada paruh kedua 2026.
Produk fesyen menjadi salah satu kategori yang rentan menghadapi perlambatan karena pembeli tidak selalu memiliki kebutuhan mendesak untuk membeli pakaian baru. Berbeda dengan kebutuhan sehari-hari, pembelian busana dapat ditunda ketika konsumen ingin membatasi pengeluaran.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan kondisi tersebut merupakan pola yang lazim terjadi dalam siklus bisnis ritel. Setelah momentum belanja besar berlalu, permintaan terhadap sejumlah kategori barang cenderung melemah.
"Sebagaimana biasanya dalam periode low season, maka produk ataupun barang kategori busana, sandang, atau fesyen akan mengalami tekanan sehubungan tidak ada kebutuhan mendesak untuk hal tersebut," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/10/26).
Pola tersebut menjadi tantangan bagi peritel yang mengandalkan momentum belanja musiman untuk mendorong penjualan. Ramainya pengunjung di pusat perbelanjaan tidak selalu cukup untuk menggerakkan pembelian apabila konsumen belum merasa perlu mengganti pakaian atau menambah koleksi busana.
Kondisi ini juga perlu dibaca dalam konteks siklus penjualan tahunan. Ramadan dan Idulfitri biasanya menjadi periode penting bagi industri ritel karena kebutuhan belanja masyarakat meningkat menjelang hari raya, sedangkan periode setelahnya cenderung lebih tenang.
Koleksi Promo Terlaris & Diskon Kilat Shopee
Penawaran produk terfavorit pilihan warganet dengan voucher cashback, diskon kilat, dan bebas ongkir.
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat
Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.