BREAKING
Jangan Tunda! Ini 5 Ciri-Ciri Kulkas Rusak dan Perlu Diganti
KABARVIRAL 62
KURASI & RINGKASAN BERITA
Nasional & Politik

Pramono Singgung Ego Pemimpin: Begitu Jadi, Penginnya Dilihat

Pramono Singgung Ego Pemimpin: Begitu Jadi, Penginnya Dilihat
Foto & Sumber: detikNews

Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti “ego pemimpin” dalam kuliah umum yang sekaligus meresmikan gedung baru Universitas Ciputra Jakarta, Rawa Buaya, Kamis (15 Oktober 2026).

Pramono membuka sesi dengan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan akademisi untuk mempercepat program revitalisasi infrastruktur, penanggulangan banjir, serta pengembangan ekonomi kreatif di Jakarta. Ia mencontohkan proyek gedung universitas yang baru selesai dibangun sebagai “bukti nyata” bahwa kolaborasi dapat menghasilkan fasilitas pendidikan berkualitas di kawasan yang sebelumnya rawan banjir. “Kita tidak hanya membangun gedung, tapi juga membangun kepercayaan. Namun, ketika proyek selesai, ada kecenderungan pemimpin mengharapkan pujian, bukan pertanggungjawaban,” ujarnya.

Konteks kebijakan dan tantangan lapangan

Jakarta terus berjuang mengurangi intensitas banjir tahunan. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI menunjukkan bahwa pada 2025 terjadi 112 kali kejadian banjir dengan kerugian ekonomi mencapai Rp 7,3 triliun. Di sisi lain, kemacetan masih menjadi keluhan utama; survei Transportasi Jakarta 2025 mencatat rata‑rata waktu tempuh harian naik 12 % dibandingkan tahun 2022. Pemerintah provinsi menargetkan penurunan 20 % dalam lima tahun ke depan melalui proyek “Smart City” dan penataan ruang publik, termasuk pembangunan fasilitas pendidikan yang terletak di zona hijau.

BACA JUGA Said Iqbal Minta PT Pos Perjelas Status Hubungan Kerja Para Pekerja

Para pengamat menilai bahwa penekanan Pramono pada “ego” mencerminkan realitas politik Indonesia, di mana pencapaian sering dipolitisasi untuk kepentingan personal. “Kepemimpinan yang transparan memang harus mengedepankan hasil, tetapi tidak boleh mengabaikan proses dan akuntabilitas,” kata Dr. Siti Nurhaliza, pakar kebijakan publik Lembaga Penelitian Kebijakan Publik (LPKP). Ia menambahkan bahwa budaya “dilihat” dapat memicu keputusan jangka pendek yang lebih mengutamakan sorotan media daripada dampak jangka panjang.

Reaksi sektor swasta dan akademisi

Ketua Asosiasi Pengusaha Jakarta (APJ), Budi Santoso, menanggapi pernyataan gubernur dengan menekankan pentingnya kemitraan. “Kami siap mendukung inisiatif pemerintah, namun kami juga mengharapkan mekanisme evaluasi yang jelas. Penghargaan atas proyek selesai tidak boleh menutup mata pada audit kualitas dan dampak sosial,” ujarnya. Di sisi lain, rektor Universitas Ciputra Jakarta, Prof. Ahmad Rizal, menilai bahwa fasilitas baru akan meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi warga Rawa Buaya, sebuah daerah yang selama ini kurang terlayani. “Kami berharap pemerintah terus membuka ruang dialog, bukan sekadar mengumumkan pencapaian,” tambahnya.

Suara warga

Warga Rawa Buaya, yang selama ini hidup dengan risiko banjir, menyambut baik kehadiran kampus baru. “Sekarang ada harapan kerja dan pendidikan di lingkungan kami,” kata Ibu Lestari, Ketua RT 04. Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan harus diikuti dengan penataan drainase yang memadai. “Tanpa sistem saluran air yang kuat, gedung baru saja menambah beban ketika hujan lebat,” tegasnya.

Implikasi bagi tata kelola pemerintahan

Penekanan pada “ego” menyoroti dua hal penting: pertama, kebutuhan akan budaya kepemimpinan yang berorientasi pada hasil yang terukur, bukan sekadar sorotan publik; kedua, pentingnya mekanisme pengawasan independen. Otoritas Pengawasan Intern Pemerintah (OPIP) telah menyiapkan pedoman evaluasi kinerja gubernur berbasis indikator kunci (Key Performance Indicator) yang mencakup kualitas layanan publik, transparansi anggaran, dan partisipasi masyarakat.

BACA JUGA Buruh Desak Pemerintah Batasi Outsourcing, Hapus Pesangon 0,5 Kali

Takeaway untuk pembaca

Konsistensi antara janji pembangunan dan realitas lapangan menjadi tolok ukur kredibilitas pemimpin. Warga dapat memantau progres proyek melalui portal data terbuka DKI Jakarta dan mengajukan pertanyaan pada forum publik yang dijadwalkan setiap tiga bulan. Sementara itu, sektor swasta dan akademisi diharapkan terus menuntut standar evaluasi yang jelas, agar kolaborasi tidak berakhir pada sekadar pencapaian fisik, melainkan pada peningkatan kualitas hidup yang terukur.

Dengan menyeimbangkan ambisi pembangunan dan kontrol akuntabilitas, Jakarta dapat mengubah “ego pemimpin” menjadi motor penggerak kebijakan yang berkelanjutan, bukan sekadar panggung untuk sorotan sesaat.

Akses Liputan Penuh • Bebas Biaya • KabarViral 62
Dikutip & dirangkum dari liputan lapangan detikNews. Baca Berita Asli di detikNews →
Bagaimana tanggapan Anda atas liputan ini?
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi liputan ini.
OTOMOTIF PILIHAN Shopee Pilihan Redaksi

Aksesoris Motor, Helm & Perawatan Kendaraan

Pilihan helm SNI, holder HP motor anti-getar, dan cairan perawatan bodi kendaraan terlaris.

Cek Promo Otomotif →
HOSTING & DOMAIN Exabytes Indonesia
Promo Domain .ID & Cloud Server Cepat

Solusi domain murah, server NVMe cepat, dan proteksi SSL resmi.

Cek Promo →
SEBELUMNYA Satu Tahun Danantara Indonesia TRUST: Dari Komitmen Menjadi Aksi SELANJUTNYA Kuasa Hukum Hercules Kembalikan Duit Rp 800 Juta dari Summarecon ke KPK
OTOMOTIF PILIHAN Aksesoris Motor, Helm & Perawatan Kendaraan
Cek Promo Otomotif →
Tautan berhasil disalin ke clipboard!